Wooooaaaaa... Postingan terakhir saya 30 Agustus 2006, dan ini postingan pertama sejak tanggal terakhir itu. Luar biasa saya pikir. Bahkan saya tidak sempat beri penjelasan kenapa blog ini tidur 1/2 dekade. Hehehe..
Baiklah, saya coba untuk menulis lagi. Bismillah...
Doan Ilman's Weblog
Iseng-iseng
20 December 2011
30 August 2006
Review : Ichi Ritoru no Namida

1リットルの涙 - Ichi Ritoru No Namida aka One Liter of tears atau Satu Liter Air Mata; di cover CD-nya memang tidak ada jaminan penonton akan menangis, tapi saya berani menjamin hampir pasti Anda akan menangis menonton dorama ini. Mungkin tidak sebanyak satu liter seperti judulnya tapi setidaknya Anda akan terharu dan mata Anda berkaca-kaca. Kalau Anda tidak percaya silakan nonton sendiri.
Dorama ini diangkat dari kisah nyata seorang gadis SMU di Jepang yang berusia 15 tahun, Kitou Aya yang didiagnosa terkena spinocerebellar degeneration desease. Penyakit ini mengakibatkan menurunnya kemampuan Aya untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana orang normal. Mula-mula Aya harus keluar dari tim basket karena kemampuannya berjalan dan keseimbangannya kian menurun, kemampuan bicara, berjalan kian merosot hingga akhirnya Aya bahkan tidak dapat memegang pena sekalipun. Aya menghembuskan nafas terakhirnya di usia 25, setelah 10 tahun berjuang melawan penyakitnya.
Konon diari yang ditulis Aya telah terjual lebih dari 18.000.000 copy. Dorama ini mengingatkan bahwa hidup sehat dan normal adalah anugerah yang harus sangat disyukuri.
Ada satu hal lagi yang men-support dorama ini selain pemainnya yang kawai; soundtracknya yang gakoi! Sebagai contoh lagu Only Human-nya K yang merupakan penjiwaan dari dorama ini. Juga dua lagu lainnya 9th March dan Konayuki dari Remioromen. Dorama ini terdiri dari 11 episode yang tiap episodenya akan membuat Anda menitikkan air mata tanpa Anda sadari (doh!, exageration gak ya?!). Enaknya anda nonton dorama ini bareng keluarga (ayah, ibu, adik atau kakak) atau sahabat, atau kalau anda malu menangis di depan mereka, mendingan anda nonton sendiri saja.
.....
amagumo ga kireta nara
nureta michi kagayaku
yami dake ga oshiete kureru
tsuyoi, tsuyoi hikari
tsuyoku mae e susume
when the rain cloud is gone,
the wet road will shine
only the darkness will tell me
a strong, strong light
be strong, move on forward
(potongan Only Human by K)
23 July 2006
Hari tanpa Televisi, mungkinkah?
Mungkin tidak semua orang tahu bahwa tanggal 23 Juli kemarin adalah hari tanpa TV. Setahu saya, gerakan hari tanpa TV ini memang tidak ada iklannya di TV. Praktis tidak banyak orang yang tahu. Adalah Kidia, sebuah yayasan yang memiliki keprihatinan akan kualitas siaran televisi di Indonesia yang memiliki gagasan Hari Tanpa TV yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Seperti tertulis di websitenya; hingga Rabu pagi 19 Juli, sudah ada 124 lembaga yang mewakili puluhan ribu warga negara, dan ratusan individu yang menyampaikan dukungan aksi ini secara langsung melalui e-mail.Saya mungkin termasuk salah satu yang khawatir akan tayangan televisi sekarang, tapi menurut saya peringatan hari tanpa televisi kemarin kurang mendapat respon masyarakat. Bagaimana tidak, saat ini adalah saat orang-orang butuh informasi musibah gempa, tsunami, hingga berita terbaru dari konflik Timur Tengah. Intinya saya tidak menolak dan tidak ikutan gerakan ini.
Namun saya sangat menghargai upaya Kidia dalam mengampanyekan siaran televisi yang sehat, terutama di kalangan anak-anak. Kemarin saya lihat salah satu liputan di televisi yang memberitakan bahwa anak-anak usia Sekolah Dasar di Jakarta nonton hingga 35 jam per minggunya, artinya 5 jam sehari. Tidak heran memang, acara televisi bagi anak kini dikemas dalam satu paket sehingga berdurasi lumayan panjang. Siapa tak kenal Karbol atau Nickelodeon? Sepanjang mereka menonton acara macam ini mungkin masih bisa dikatakan normal. Tapi jika sudah ikutan nonton tayangan untuk dewasa? Kasian juga ya adik-adik kita.
Saya pernah baca anekdot di sebuah harian, tentang seorang anak yang protes karena tidak diperkenankan nonton tayangan dewasa oleh orangtuanya. Dia bilang: “Wah... ayah ngga adil, masak aku ngga boleh ikutan nonton, padahal aku ngga pernah protes kalau ayah ikutan nonton kartun”. Walah... semoga hanya sebuah anekdot.
28 May 2006
Karena menikah itu tidak mudah
Need you by my side
Girl to be my bride
Girl to be my bride
Never be denied
Everlasting love
(Everlasting Love, Jamie cullum)
Barangkali pertanyaan yang paling mengganggu bagi saya saat ini adalah pertanyaan mengenai kapan saya akan menikah? Sebuah pertanyaan yang sensitif bagi saya. Saat masih merampungkan tugas akhir, orang bertanya ’kapan kamu lulus?’ Saat sudah lulus orang bertanya, ’sekarang kerja dimana?’ Pun saat sudah bekerja, orang masih bertanya, ’kapan mau nikah? Ditunggu lho undangannya!’. Dan biasanya setelah menikah orang masih akan bertanya ’sudah punya anak atau belum?’. – dan seterusnya -
Saya akui mulai kuliah tingkat dua sampai sebulan yang lalu saya masih menggebu-gebu ingin segera menikah. Dulu saat masih kuliah saya bermimpi ingin KKN (Kuliah, Kerja, sambil Nikah). Semuanya tampak realistis saat itu. Ingin nikah dini, begitulah kira-kira. Hingga sebulan yang lalu saya banyak mendapat asupan ilmu tentang pernikahan. Banyak senior yang meminjamkan buku-buku tentang pernikahan, sampe majalah bridal punya ibu saya.
Waktu pulang kampung sebulan yang lalu Ayah saya malah membelikan majalah Nikah bertajuk ‘Kenapa Pria Bimbang Menikah?’. Beliau mentarget saya harus menikah maksimal pada usia 25 (artinya 2,5 tahun lagi!). Ibu saya juga sudah mulai berbagi ilmu soal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum menikah, sampai detail anggaran pernikahan yang segini-segitu.
Sekarang lain ceritanya. Saya pikir saya jauh lebih realistis dibanding dulu. Tambah banyak ilmu soal nikah, saya malah tambah banyak pertimbangan. Saya tambah sadar ternyata tidak mudah mempersiapkan sebuah pernikahan. Dan akhirnya saya berkesimpulan; mungkin belum saatnya. Saya tidak bermaksud mengubur keinginan saya untuk menikah, hanya menunda sementara hingga saat yang tepat.
Ada banyak pertimbangan yang menurut saya realistis sebagai alasan untuk tidak segera menikah. Umur saya masih 22 (kelakuan masih kayak umur 12), masih belum merasa dewasa secara psikologis (cieee!). Pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi semua orang, kalo bisa sekali untuk seumur hidup, butuh kesiapan fisik, psikis, dan materi tentunya. Kalau tidak siap ketiganya bisa runyam rumah tangga. Dan saya belum siap ketiganya.
Yang terpenting, saya ingin memperbaiki diri dulu. Bukankah orang yang baik akan dipasangkan dengan jodoh yang baik pula? Kalau melihat kondisi diri saya saat ini, waah... masih jauuuuh dari harapan. Lagipula saat ini saya masih merasa bahagia dengan hanya menjadi tamu undangan atau jadi panitia pernikahan teman. Cita-cita saya sekarang, saya akan menikah di kisaran usia 28-30, saat itu saya sudah harus dewasa, jauh lebih baik, dan punya rumah. Atau bisa jadi saya menikah sebelum itu, tergantung keputusan terbaik yang diberikan-Nya. Do’akan saya semoga dapat istri yang baik!
Postingan kali ini ditulis dengan malu–malu, didedikasikan buat orang-orang yang nanya kapan saya akan nikah. Mohon maaf judulnya tidak bermaksud provokatif! Saya juga tidak bermaksud sok’ tahu.
Everlasting love
(Everlasting Love, Jamie cullum)
Barangkali pertanyaan yang paling mengganggu bagi saya saat ini adalah pertanyaan mengenai kapan saya akan menikah? Sebuah pertanyaan yang sensitif bagi saya. Saat masih merampungkan tugas akhir, orang bertanya ’kapan kamu lulus?’ Saat sudah lulus orang bertanya, ’sekarang kerja dimana?’ Pun saat sudah bekerja, orang masih bertanya, ’kapan mau nikah? Ditunggu lho undangannya!’. Dan biasanya setelah menikah orang masih akan bertanya ’sudah punya anak atau belum?’. – dan seterusnya -Saya akui mulai kuliah tingkat dua sampai sebulan yang lalu saya masih menggebu-gebu ingin segera menikah. Dulu saat masih kuliah saya bermimpi ingin KKN (Kuliah, Kerja, sambil Nikah). Semuanya tampak realistis saat itu. Ingin nikah dini, begitulah kira-kira. Hingga sebulan yang lalu saya banyak mendapat asupan ilmu tentang pernikahan. Banyak senior yang meminjamkan buku-buku tentang pernikahan, sampe majalah bridal punya ibu saya.
Waktu pulang kampung sebulan yang lalu Ayah saya malah membelikan majalah Nikah bertajuk ‘Kenapa Pria Bimbang Menikah?’. Beliau mentarget saya harus menikah maksimal pada usia 25 (artinya 2,5 tahun lagi!). Ibu saya juga sudah mulai berbagi ilmu soal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum menikah, sampai detail anggaran pernikahan yang segini-segitu.
Sekarang lain ceritanya. Saya pikir saya jauh lebih realistis dibanding dulu. Tambah banyak ilmu soal nikah, saya malah tambah banyak pertimbangan. Saya tambah sadar ternyata tidak mudah mempersiapkan sebuah pernikahan. Dan akhirnya saya berkesimpulan; mungkin belum saatnya. Saya tidak bermaksud mengubur keinginan saya untuk menikah, hanya menunda sementara hingga saat yang tepat.
Ada banyak pertimbangan yang menurut saya realistis sebagai alasan untuk tidak segera menikah. Umur saya masih 22 (kelakuan masih kayak umur 12), masih belum merasa dewasa secara psikologis (cieee!). Pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi semua orang, kalo bisa sekali untuk seumur hidup, butuh kesiapan fisik, psikis, dan materi tentunya. Kalau tidak siap ketiganya bisa runyam rumah tangga. Dan saya belum siap ketiganya.
Yang terpenting, saya ingin memperbaiki diri dulu. Bukankah orang yang baik akan dipasangkan dengan jodoh yang baik pula? Kalau melihat kondisi diri saya saat ini, waah... masih jauuuuh dari harapan. Lagipula saat ini saya masih merasa bahagia dengan hanya menjadi tamu undangan atau jadi panitia pernikahan teman. Cita-cita saya sekarang, saya akan menikah di kisaran usia 28-30, saat itu saya sudah harus dewasa, jauh lebih baik, dan punya rumah. Atau bisa jadi saya menikah sebelum itu, tergantung keputusan terbaik yang diberikan-Nya. Do’akan saya semoga dapat istri yang baik!
Postingan kali ini ditulis dengan malu–malu, didedikasikan buat orang-orang yang nanya kapan saya akan nikah. Mohon maaf judulnya tidak bermaksud provokatif! Saya juga tidak bermaksud sok’ tahu.
Subscribe to:
Posts (Atom)