“Bila Anda harus menunggu datangnya rasa percaya diri dan mengandalkan kemahiran sebelum melakukan hal baru atau mengejar angan-angan, Anda mungkin harus menunggu selamanya.” (Barbara de Angels)Beberapa hari ini saya mencoba menulis lagi (untuk blog ini tentunya). Dan saya merasakan kemandegan. Betapapun kerasnya saya mencoba, tulisan yang saya tulis hanya sampai peragraf kedua, tidak lebih. Mentok, stuck, blank! Aha erlebnis itu tidak kunjung datang. Jadilah folder khusus tulisan saya di komputer itu penuh dengan tulisan seperempat jadi.
Waktu dapat kuliah jurnalistik dan penulisan dulu, saya tidak pernah menganggap menulis sebagai sesuatu yang serius. Saya tidak dapat nilai A di kedua mata kuliah tersebut. Tapi sekarang saya benar-benar ingin bisa menulis.
Saya tidak pernah punya tulisan yang saya anggap keren. Mungkin ada 9-10 tulisan yang tidak terselesaikan. Dan kalau pun saya lanjutkan menulisnya, sepertinya tulisan saya sudah basi alias tidak up to date. Terlalu lama diendapkan. Akhirnya beberapa tulisan yang unfinished tersebut saya delete.
Saya mencoba membuat list apa saja yang menjadi kendala bagi saya untuk menulis. Jika diurutkan bisa lebih dari dua puluh baris. Akhirnya saya kerucutkan menjadi satu point saja: Saya tidak PD dalam menulis!
Jawaban ketiga masalah saya di atas saya temukan di beberapa buku bekas kuliah dulu. Saya hanya mencatat dua hal saja yang menurut saya paling penting.
Pertama; menulis itu butuh latihan. Ya, memang hanya ada tiga langkah dalam menulis; langkah pertama: menulis, langkah kedua: menulis, langkah ketiga: menulis (lho!). Saya lupa itu perkataan siapa, yang jelas itu omongan penulis juga, orang Indonesia. Thomas Alfa Edison pernah bilang; Jenius itu 1% ide dan 99% cucuran keringat. Mungkin menulis juga sama, ide menulis bisa jadi hanya 1% dan sisanya just do it!
Jadikan menulis sebagai suatu kebiasaan. Kita bisa menulis tentang apa saja. Perjalanan dari kostan ke kampus, tentang kehidupan Ibu Kost kita, atau review film yang kita tonton tadi malam.
Kedua; menulis adalah kerja seluruh kemampuan manusia. Menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan otak kiri (emosi) dan belahan otak kanan (logika). Jadi dalam kerja menulis, kita sebaiknya tidak hanya sekedar menyiapkan kemampuan intelektual dan wawasan ilmu pengetahuan saja. Namun, stabilitas emosi, kegembiraan dan lain-lain pun harus kita kondisikan agar menunjang dan memperkuat usaha kita dalam menulis.
Kesimpulan saya, orang yang tulisannya kasar, sarkas dan tidak mengindahkan kesantunan berbahasa, mungkin orang itu sedang labil emosinya. IQ, EQ, dan SQnya sedang tidak seimbang. Ternyata menulis juga butuh pikiran dan suasana hati yang tenang serta lingkungan yang kondusif.
Saya ingin, suatu hari nanti tulisan saya bisa keren seperti tulisan Mas Iip Wijayanto, menyentuh seperti tulisan Mas Gaw dan Pak Anis Matta dan ulasannya tajam seperti tulisan Noam Chomsky . *mimpi*
Mulai hari ini saya akan berusaha untuk terus menulis… menulis… dan menulis… Teman-teman, ada yang mau berbagi pengalaman menulis?
Referensi:
Jurnalistik Islami (Ahmad Y. Samantho)
Membudayakan Kebiasaan Menulis; Sebuah Pengantar (Hadiyanto)
Mengatasi 25 Hambatan Menulis (Abu Al-Ghifari & Luqman Haqani)
Quantum Learning (Bobby de Porter & Mike Hernacki)
Horee… akhirnya saya berhasil menyelesaikan satu tulisan minggu ini.
11 comments:
Doan, cannot agree more wit u, ciwalk is the most comfortable place...btw, lo bener, menulis itu butuh kepercayaan diri apalagi tuk ngeliatinnya ke org, and we need lots of practise, gw juga pernah kok stuck and ga bisa nulis sama skali, tapi satu lagi resepnya, banyak baca...itu akan menstimulasi imajinasi lo untuk mengeluarkan ide-ide baru yg bisa dituangkan dlm sbuah tulisan...ok, udah dicatet tips dari bu guru? hihihi...
mari menulis !!!
Semua bisa karna biasa
Tulis aja apa yg ada di hati dan pikiranmu. karna semua yg berasal dari hati, jatuhnya akan ke hati juga ;)
nulis! wah ini paling susah buat saya. tp gara2 ada temen yg 'mompain' melulu, dan akhirnya skarang saya klo mau nulis...yach nulis aja apa yg ada dikepala. Mau salah/bener tata bahasanya, ngga peduli. pokoknya nulis....
katanya ngga pede? tapi kok bikin tulisan bisa sekeren ini siyy? hehehe! keep up the good work buddy! eh.. ngobrol di YM yuk? saya pake user: mazuta2222
hai doan, apa kabar...
they said, menulis yg baik selalu dimulai dgn membaca yg baik :)
eh...tulisanmu oke kok, so ga perlu mrasa gag PD kali yak... tetep smangatttt :)
biasanya tuh.. yg rendah hati dan tidak sombong spt doan inilah yg bisa disebut sebagai penulis sejati. :)
hayo.. ikutan chicken soup plus nya blogfam yuk. :D
senangnya menulis di blog krn setiap tulisan (posting) langsung ada respon pembaca (comments), so blog adl media yg tepat tuk menumbuh-suburkan rasa PD dlm menulis ;)
dan tulisan Doan di atas sangat keren hehe..
Bagus, teruslah menulis. Dengan menulis (dan banyak membaca) berarti kita membangun dan menyempurnakan jati diri eksistensi kita sebagai insan manifestasi ruh Tuhan.
Menulis...
Saya sudah tidak ingat sejak kapan.
Menjadi penulis...
Keinginan yang benar-benar ingin diwujudkan.
Lis... tulis... tulis... ayo menulis...
kamu bener, masih bisa kok kita tuk nulis lebih baik.
Post a Comment