Mungkin tidak semua orang tahu bahwa tanggal 23 Juli kemarin adalah hari tanpa TV. Setahu saya, gerakan hari tanpa TV ini memang tidak ada iklannya di TV. Praktis tidak banyak orang yang tahu. Adalah Kidia, sebuah yayasan yang memiliki keprihatinan akan kualitas siaran televisi di Indonesia yang memiliki gagasan Hari Tanpa TV yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Seperti tertulis di websitenya; hingga Rabu pagi 19 Juli, sudah ada 124 lembaga yang mewakili puluhan ribu warga negara, dan ratusan individu yang menyampaikan dukungan aksi ini secara langsung melalui e-mail.Saya mungkin termasuk salah satu yang khawatir akan tayangan televisi sekarang, tapi menurut saya peringatan hari tanpa televisi kemarin kurang mendapat respon masyarakat. Bagaimana tidak, saat ini adalah saat orang-orang butuh informasi musibah gempa, tsunami, hingga berita terbaru dari konflik Timur Tengah. Intinya saya tidak menolak dan tidak ikutan gerakan ini.
Namun saya sangat menghargai upaya Kidia dalam mengampanyekan siaran televisi yang sehat, terutama di kalangan anak-anak. Kemarin saya lihat salah satu liputan di televisi yang memberitakan bahwa anak-anak usia Sekolah Dasar di Jakarta nonton hingga 35 jam per minggunya, artinya 5 jam sehari. Tidak heran memang, acara televisi bagi anak kini dikemas dalam satu paket sehingga berdurasi lumayan panjang. Siapa tak kenal Karbol atau Nickelodeon? Sepanjang mereka menonton acara macam ini mungkin masih bisa dikatakan normal. Tapi jika sudah ikutan nonton tayangan untuk dewasa? Kasian juga ya adik-adik kita.
Saya pernah baca anekdot di sebuah harian, tentang seorang anak yang protes karena tidak diperkenankan nonton tayangan dewasa oleh orangtuanya. Dia bilang: “Wah... ayah ngga adil, masak aku ngga boleh ikutan nonton, padahal aku ngga pernah protes kalau ayah ikutan nonton kartun”. Walah... semoga hanya sebuah anekdot.
4 comments:
Hmm... satu hari tanpa TV, ah... gak akan efektif kan untuk menghilangkan pengaruh negatif darinya... Mesti ada langkah konkrit untuk mecegahnya. Misalnya ya, hentikan tayangan kekerasan. bukankah kita punya badan sensor film???
saya jg ikut mendukung lho... soale antene tv belum dipasang hehehe.... tapi bener ane ikut dukung liat aja disini: http://azfaazfa.blogspot.com/2006/07/gift-for-indonesian-children.html
saya setuju dengan hari tanpa televisi..
kemana aja nih kang.. g pernah muncul
Post a Comment